<Iklan 160x600

Transformasi PRM Gunungpring: Kunci Menjadi Ranting Unggulan Nasional

Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Gunungpring, Muntilan, Kabupaten Magelang, merupakan salah satu contoh menarik mengenai bagaimana organisasi Muhammadiyah di tingkat ranting dapat berkembang menjadi pusat pelayanan

Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Gunungpring, Muntilan, Kabupaten Magelang, merupakan salah satu contoh menarik mengenai bagaimana organisasi Muhammadiyah di tingkat ranting dapat berkembang menjadi pusat pelayanan umat yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan. Perjalanan tersebut mengantarkan PRM Gunungpring menjadi Ranting Unggulan Nasional pada tahun 2017.

Gambaran mengenai perjalanan dan praktik pengelolaan PRM Gunungpring tersebut salah satunya dapat disimak dalam podcast BICARAMU LPCRPM PP Muhammadiyah, yang menghadirkan Imron Rosidi, salah satu pengurus PRM Gunungpring, sebagai narasumber. Dalam perbincangan tersebut, Imron Rosidi menguraikan berbagai pengalaman dan strategi yang dijalankan PRM Gunungpring, mulai dari pengelolaan amal usaha pendidikan, budaya organisasi, penguatan filantropi, hingga kaderisasi lintas generasi. Paparan tersebut memberikan gambaran dari dalam mengenai proses yang membentuk PRM Gunungpring hingga mampu berkembang menjadi salah satu ranting unggulan Muhammadiyah.

Keberhasilan tersebut menjadi semakin menarik karena Muhammadiyah di Gunungpring berkembang sebagai kelompok minoritas dengan jumlah warga sekitar 10 persen dari keseluruhan masyarakat. Kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi PRM Gunungpring untuk membangun berbagai amal usaha dan memberikan pelayanan kepada masyarakat secara luas.

Transformasi PRM Gunungpring tidak lahir dari satu program tunggal. Keberhasilannya merupakan hasil dari pengelolaan organisasi yang konsisten, pengembangan amal usaha, penguatan filantropi, budaya organisasi yang solid, serta kaderisasi yang berkelanjutan.

Ekosistem Pendidikan yang Terpadu

Salah satu fondasi utama kemajuan PRM Gunungpring adalah pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan secara terpadu. PRM Gunungpring mengembangkan ekosistem pendidikan yang mencakup jenjang PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA Taruna Muhammadiyah.

Pengelolaan pendidikan dilakukan secara terintegrasi dalam satu sistem. Pola ini memungkinkan adanya kesinambungan antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang berikutnya, sekaligus memudahkan koordinasi dalam pengembangan sumber daya manusia, tata kelola, dan mutu pendidikan.

Keberadaan AUM pendidikan yang lengkap juga memberikan pilihan pendidikan kepada masyarakat sejak usia dini hingga jenjang menengah. Bahkan, tingginya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan Muhammadiyah di Gunungpring tercermin dari tingginya minat pendaftaran. Sekolah-sekolah tersebut menjadi pilihan masyarakat dan dalam perkembangannya menerapkan sistem inden karena jumlah peminat yang tinggi.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi instrumen strategis dalam membangun keberadaan dan kebermanfaatan Muhammadiyah di tengah masyarakat. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem kaderisasi dan pelayanan sosial Muhammadiyah.

Budaya Organisasi: Pengurus yang Mengurusi, Bukan Menguras

Kemajuan organisasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program dan amal usaha. Faktor manusia yang menjalankan organisasi menjadi bagian penting dari keberhasilan PRM Gunungpring.

Salah satu prinsip yang ditekankan dalam pengalaman pengelolaan PRM Gunungpring adalah bahwa pengurus harus menjadi orang yang “mengurusi”, bukan “menguras”. Makna tersebut menggambarkan orientasi kepemimpinan yang menempatkan pengurus sebagai pihak yang hadir untuk mengayomi, melayani, membangun, dan mencari solusi bagi kebutuhan organisasi serta masyarakat.

Soliditas tersebut dibangun melalui budaya organisasi yang sederhana tetapi dilakukan secara konsisten. Salah satunya adalah kebiasaan melakukan rapat rutin setiap malam Jumat. Forum tersebut tidak sekadar menjadi ruang administratif untuk membahas agenda organisasi, tetapi juga menjadi sarana membangun kedekatan dan melahirkan gagasan baru.

Budaya “kumpul, kembul, tukul” menjadi gambaran pendekatan tersebut. Berkumpul, makan bersama, kemudian tumbuh dan berkembang melalui gagasan-gagasan yang dihasilkan bersama. Interaksi yang intensif membuat komunikasi antarpengurus berjalan lebih baik sekaligus menciptakan rasa memiliki terhadap organisasi.

Dalam konteks organisasi masyarakat, budaya semacam ini memiliki arti penting. Program yang baik membutuhkan pengurus yang solid, sementara soliditas membutuhkan komunikasi, kebersamaan, dan kepercayaan yang terus dipelihara.

Filantropi sebagai Instrumen Pelayanan Umat

Bidang lain yang menjadi kekuatan PRM Gunungpring adalah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga filantropi Muhammadiyah, Lazismu.

Pengelolaan filantropi dilakukan secara lebih terorganisasi melalui Unit Kantor Layanan (UKL) Lazismu. Kehadiran lembaga tersebut memungkinkan potensi zakat, infak, dan sedekah warga dikelola secara profesional dan diarahkan kembali untuk kepentingan masyarakat.

Kontribusi PRM Gunungpring terhadap penghimpunan dana filantropi di tingkat daerah menunjukkan besarnya potensi yang dapat dikembangkan dari basis jamaah dan masyarakat. Dana yang dihimpun tidak berhenti pada aktivitas penghimpunan, tetapi dikembalikan kepada masyarakat dalam berbagai bentuk program sosial.

Di antara pemanfaatannya adalah pemberian beasiswa bagi kader, pembagian paket kebutuhan pokok dalam jumlah besar, serta program kurban yang melibatkan partisipasi masyarakat secara luas.

Pola tersebut memperlihatkan bahwa filantropi dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat kemandirian organisasi sekaligus memperluas kebermanfaatan Muhammadiyah. Kepercayaan masyarakat tumbuh ketika dana yang dihimpun dikelola secara transparan dan memberikan dampak nyata.

Regenerasi sebagai Jaminan Keberlanjutan

Keberhasilan organisasi dalam jangka panjang tidak cukup hanya dengan mengandalkan figur tertentu. PRM Gunungpring membangun keberlanjutan melalui kaderisasi lintas generasi.

Proses tersebut melibatkan sedikitnya empat generasi, mulai dari para sesepuh, generasi penerus, hingga anak-anak muda yang tumbuh dan memperoleh pendidikan di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah. Pola kaderisasi semacam ini menciptakan kesinambungan antara pengalaman generasi terdahulu dengan energi dan gagasan generasi muda.

Regenerasi juga diperkuat melalui keteladanan para pengurus. Salah satu bentuknya adalah kepercayaan pengurus terhadap lembaga pendidikan Muhammadiyah yang diwujudkan dengan menyekolahkan anak-anak mereka di AUM yang dikelola sendiri.

Keteladanan tersebut memiliki makna strategis. Kepercayaan terhadap AUM tidak hanya disampaikan melalui pernyataan, tetapi ditunjukkan melalui keputusan nyata dalam kehidupan keluarga. Dengan demikian, AUM tidak hanya menjadi institusi organisasi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan kader dan warga Muhammadiyah.

Pelajaran dari PRM Gunungpring

Pengalaman PRM Gunungpring memperlihatkan bahwa kekuatan sebuah ranting tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah warga Muhammadiyah. Dalam konteks tertentu, kualitas tata kelola, kekuatan kader, kemampuan membangun AUM, dan kebermanfaatan sosial justru menjadi faktor yang lebih menentukan.

Setidaknya terdapat empat pelajaran penting dari transformasi PRM Gunungpring.

Pertama, amal usaha perlu dikelola sebagai sebuah ekosistem, bukan sebagai unit-unit yang berjalan sendiri-sendiri. Pendidikan dari jenjang dasar hingga menengah dapat menjadi ruang pelayanan sekaligus kaderisasi.

Kedua, budaya organisasi harus dibangun melalui kebiasaan yang konsisten. Rapat rutin, kebersamaan, komunikasi, dan keteladanan pengurus merupakan modal sosial yang tidak dapat dibangun secara instan.

Ketiga, filantropi harus dikelola secara profesional dan produktif. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar sumber dana, tetapi instrumen pelayanan umat yang dapat memperkuat kepercayaan masyarakat kepada organisasi.

Keempat, kaderisasi harus dipersiapkan lintas generasi. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu melahirkan generasi penerus sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk berkontribusi.

Dengan pendekatan tersebut, PRM Gunungpring mampu menunjukkan bahwa ranting Muhammadiyah dapat menjadi pusat gerakan yang memiliki daya jangkau luas. Status sebagai ranting unggulan nasional bukan hanya merupakan bentuk penghargaan, tetapi juga menjadi refleksi dari proses panjang dalam membangun organisasi, pendidikan, filantropi, kaderisasi, dan pelayanan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

<Iklan 160x600