<Iklan 160x600

Muhammadiyah di Gunungpring: Sejarah Gerakan dan Perkembangan Pendidikan

Muhammadiyah di Gunungpring, Muntilan, Kabupaten Magelang, tidak lahir sebagai organisasi besar. Gerakan ini bermula dari aktivitas sekelompok pemuda pada awal 1960-an yang kemudian berkembang menjadi

Muhammadiyah di Gunungpring, Muntilan, Kabupaten Magelang, tidak lahir sebagai organisasi besar. Gerakan ini bermula dari aktivitas sekelompok pemuda pada awal 1960-an yang kemudian berkembang menjadi organisasi dengan kegiatan di bidang pendidikan, dakwah, kaderisasi, dan pelayanan sosial. Jejak awalnya dapat ditelusuri pada 18 November 1963 ketika Pemuda Muhammadiyah Gunungpring berdiri. Setahun kemudian, pada 17 Oktober 1964, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Gunungpring resmi berdiri dengan 19 anggota awal dan Muchajat A.S. sebagai ketua pertama. Rangkaian peristiwa tersebut menjadi titik penting dalam sejarah Muhammadiyah di Gunungpring karena menunjukkan bahwa aktivitas kepemudaan menjadi salah satu pintu masuk terbentuknya organisasi Muhammadiyah secara formal.

Dari Pemuda ke Ranting

Awal 1960-an merupakan periode perubahan politik yang cukup besar di Indonesia. Setelah Masyumi dibubarkan pada 1960, aktivitas sejumlah kelompok Islam mengalami perubahan. Di Muntilan, para pemuda yang sebelumnya aktif dalam organisasi Islam kemudian mencari ruang baru untuk melanjutkan kegiatan keagamaan dan sosial. Dalam penelitian Ra’ad Noor Fattah tentang strategi dakwah Muhammadiyah di Gunungpring, sejumlah tokoh lokal disebut berperan dalam perkembangan awal gerakan tersebut, di antaranya M. Tohir, Muji Suwarno, Mulyo Suwarno, dan Muhayat. Aktivitas kepemudaan yang berkembang pada masa itu kemudian menjadi salah satu dasar pembentukan organisasi Muhammadiyah di Gunungpring.

Pada 17 Oktober 1964, PRM Gunungpring berdiri dengan jumlah anggota awal sebanyak 19 orang. Jumlah tersebut memang relatif kecil, tetapi perkembangan Muhammadiyah pada tahun-tahun berikutnya menunjukkan bahwa gerakan ini tidak mengandalkan pertumbuhan anggota semata. Para perintis justru mulai membangun lembaga yang dapat menjadi sarana dakwah sekaligus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Pilihan tersebut kemudian terlihat jelas dalam perhatian besar Muhammadiyah Gunungpring terhadap bidang pendidikan.

Pendidikan Menjadi Pilihan Utama

Pendidikan menjadi salah satu bidang yang segera dikembangkan setelah Muhammadiyah berdiri. Tidak lama setelah pembentukan ranting, Muhammadiyah mendirikan taman kanak-kanak yang pada tahap awal melaksanakan kegiatan belajar di rumah Mbah Sastro di Karaharjan. Dari kegiatan pendidikan tingkat awal tersebut kemudian muncul gagasan untuk mendirikan sekolah dasar yang dapat memberikan pendidikan umum sekaligus pembinaan keagamaan kepada anak-anak di Gunungpring.

Gagasan tersebut mulai diwujudkan pada 1967. Pada 1 Mei 1967, panitia pembangunan sekolah mengajukan kebutuhan dana sebesar Rp250.000. Beberapa hari kemudian dilakukan perjanjian peminjaman tanah untuk pembangunan gedung, sementara pada 14 Juni 1967 panitia kembali menggalang bantuan karena tanah tersebut akan dijual dengan harga Rp12.000. Rangkaian dokumen tersebut menunjukkan bahwa pembangunan sekolah dilakukan melalui proses pengorganisasian masyarakat dan dukungan warga, bukan melalui modal besar yang telah tersedia sejak awal.

SD Muhammadiyah Gunungpring kemudian menggunakan 1969 sebagai tahun awal sejarah kelembagaannya dan pada 2026 memperingati milad ke-57. Karena itu, kronologi pendirian sekolah perlu dibaca secara hati-hati. Tahun 1967 menunjukkan proses persiapan, pengadaan tanah, dan pembangunan, sedangkan 1969 digunakan dalam sejarah kelembagaan sekolah sebagai awal keberadaannya. Perbedaan tanggal tersebut tidak serta-merta menunjukkan pertentangan data, karena masing-masing dapat merujuk pada tahapan yang berbeda dalam proses pendirian sekolah.

Konteks Pendidikan di Muntilan

Pendirian sekolah Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan keagamaan Gunungpring dan Muntilan pada masa itu. Muntilan telah lama menjadi kawasan dengan perkembangan pendidikan dan kehidupan keagamaan yang dinamis, termasuk keberadaan lembaga pendidikan Kristen. Dalam kesaksian yang dihimpun dalam penelitian tentang Muhammadiyah Gunungpring, perkembangan pendidikan Kristen menjadi salah satu faktor yang mendorong tokoh-tokoh Muhammadiyah untuk membangun lembaga pendidikan sendiri.

Konteks tersebut sebaiknya dipahami sebagai bagian dari dinamika pendidikan dan dakwah pada masa itu, bukan semata-mata sebagai konflik antaragama. Bagi Muhammadiyah, pendirian sekolah merupakan bagian dari upaya menyediakan pendidikan yang memadukan pengetahuan umum dengan pembinaan keislaman. Pendidikan sekaligus menjadi sarana untuk menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan dasar keagamaan. Pilihan tersebut kemudian menjadi salah satu ciri yang paling bertahan dalam perjalanan Muhammadiyah Gunungpring.

Aisyiyah dan Organisasi Kepemudaan

Perkembangan Muhammadiyah Gunungpring pada masa awal juga diikuti dengan pembentukan organisasi otonom. Pada 1965 berdiri Pimpinan Ranting Aisyiyah Gunungpring dan pada tahun yang sama berkembang Nasyiatul Aisyiyah. Kehadiran organisasi tersebut memperluas basis gerakan dengan melibatkan perempuan dan generasi muda dalam aktivitas dakwah, pendidikan, dan kaderisasi. Dengan demikian, sejak periode awal Muhammadiyah Gunungpring mulai membangun struktur gerakan yang tidak hanya bertumpu pada pimpinan ranting, tetapi juga memiliki wadah bagi kelompok perempuan dan kaum muda.

Dari SD ke Pendidikan Berjenjang

Setelah melewati beberapa dekade, Muhammadiyah Gunungpring memasuki tahap baru dengan memperluas bidang pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan lanjutan mendorong lahirnya SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring yang memperoleh izin operasional pada 24 Januari 2007. Kehadiran SMP tersebut memperluas jangkauan pendidikan Muhammadiyah dan memberikan kesinambungan bagi lulusan sekolah dasar yang ingin melanjutkan pendidikan dalam lingkungan yang tetap memberikan pembinaan keislaman.

Perkembangan tersebut kemudian berlanjut dengan pendirian SMA Taruna Muhammadiyah Gunungpring. Sekolah ini dibangun pada 2017 dan mulai beroperasi pada tahun pelajaran 2018/2019 dengan konsep ketarunaan, asrama, kedisiplinan, kepemimpinan, pendidikan karakter, dan pembinaan keislaman. Dengan hadirnya SMA Taruna Muhammadiyah, jaringan pendidikan Muhammadiyah di Gunungpring berkembang dari pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Perkembangan tersebut menunjukkan adanya perubahan skala gerakan dari pengelolaan satu lembaga pendidikan menuju pembangunan ekosistem pendidikan yang lebih terintegrasi.

Dakwah Tidak Hanya Melalui Pengajian

Perjalanan Muhammadiyah Gunungpring juga menunjukkan bahwa dakwah berkembang melalui berbagai bentuk kegiatan. Selain pengajian rutin dan tabligh akbar, kegiatan Muhammadiyah mencakup pembinaan mualaf, pengelolaan masjid dan musala, pelayanan kematian, penanggulangan bencana, serta kegiatan zakat, infak, dan sedekah. Lazismu kemudian menjadi salah satu instrumen penting dalam pengelolaan kegiatan filantropi, termasuk penghimpunan dan penyaluran zakat, infak, dan sedekah serta pemberian bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah di Gunungpring tidak hanya berlangsung melalui ceramah atau pengajian, tetapi juga melalui pelayanan sosial. Sekolah memberikan layanan pendidikan, masjid menjadi pusat pembinaan jamaah, sementara kegiatan filantropi memberikan respons terhadap kebutuhan masyarakat. Pola tersebut membuat dakwah memiliki bentuk yang lebih konkret dan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Tetap Minoritas, tetapi Mempengaruhi Mayoritas

Salah satu karakter menarik Muhammadiyah Gunungpring adalah posisinya dalam struktur masyarakat setempat. Warga Muhammadiyah  hanya sekitar 10 persen dari keseluruhan penduduk Gunungpring. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukan kelompok mayoritas secara jumlah, sehingga perkembangan gerakan tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan pertambahan anggota.

Dalam kondisi tersebut, Muhammadiyah membangun pengaruh melalui institusi. Sekolah, masjid, organisasi otonom, lembaga zakat, dan berbagai kegiatan sosial menjadi sarana untuk menjalankan program organisasi sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat. Pola ini menunjukkan bahwa kekuatan sebuah gerakan tidak selalu ditentukan oleh jumlah anggota, tetapi juga oleh kemampuan membangun lembaga yang dikelola secara berkelanjutan dan memiliki manfaat sosial.

Enam Dekade Perjalanan

Jika diringkas berdasarkan kronologi yang tersedia, perjalanan Muhammadiyah Gunungpring dapat dibagi ke dalam beberapa tahap. Tahun 1963 menjadi fase awal dengan berdirinya Pemuda Muhammadiyah, kemudian 1964 menjadi tonggak pembentukan PRM Gunungpring. Pada 1965, Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah mulai berkembang sebagai bagian dari organisasi otonom, sedangkan periode 1967–1969 menjadi fase penting dalam pembangunan pendidikan dasar. Setelah melewati beberapa dekade, Muhammadiyah memperluas bidang pendidikan melalui SMP Muhammadiyah Plus pada 2007 dan SMA Taruna Muhammadiyah pada 2017–2018.

Di antara berbagai periode tersebut, pendidikan menjadi benang merah yang menghubungkan perjalanan Muhammadiyah Gunungpring. Sejak mendirikan lembaga pendidikan pertama hingga mengembangkan pendidikan berjenjang, Muhammadiyah menjadikan sekolah sebagai salah satu instrumen utama untuk menjalankan dakwah dan kaderisasi. Perkembangan pendidikan tersebut kemudian berjalan bersama dengan kegiatan sosial, filantropi, pengelolaan masjid, dan aktivitas organisasi otonom.

Menjadi Gerakan Pendidikan

Sejarah Muhammadiyah Gunungpring menunjukkan proses perkembangan sebuah gerakan lokal yang berlangsung secara bertahap. Setelah terbentuk sebagai ranting pada 1964, Muhammadiyah mulai membangun basis gerakan melalui pendidikan, organisasi otonom, dakwah, masjid, dan kegiatan sosial. Pendidikan kemudian berkembang menjadi bidang yang paling menonjol, dari pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah Gunungpring tidak berhenti pada pembentukan organisasi, tetapi terus membangun lembaga untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Sekolah menjadi sarana pendidikan sekaligus kaderisasi, masjid menjadi ruang pembinaan jamaah, sementara kegiatan filantropi dan pelayanan sosial menjadi bagian dari upaya memperluas kemanfaatan gerakan.

Dalam perjalanannya, Muhammadiyah Gunungpring juga mampu membangun pengaruh sosial meskipun secara demografis warga Muhammadiyah bukan kelompok mayoritas. Pengaruh tersebut tumbuh melalui keberadaan lembaga pendidikan, kegiatan dakwah, organisasi otonom, masjid, serta berbagai layanan sosial yang terus dikembangkan dari waktu ke waktu.

Lebih dari enam dekade setelah berdiri, perjalanan Muhammadiyah Gunungpring memperlihatkan perubahan dari sebuah organisasi ranting menjadi gerakan yang memiliki jaringan lembaga dan aktivitas yang luas. Perubahan tersebut sekaligus menjadi bagian dari tantangan generasi sekarang: menjaga kesinambungan lembaga yang telah dibangun para pendahulu, memperkuat kaderisasi, dan memastikan seluruh Amal Usaha Muhammadiyah tetap berorientasi pada tujuan utama gerakan, yaitu menghadirkan pendidikan, dakwah, dan kemanfaatan bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

<Iklan 160x600