
MAGELANG — SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring (M-Plus) menghadirkan dr. Aisah Dahlan, CMHt., CM.NLP., dalam Seminar Parenting Nasional di Ballroom Atria Hotel Magelang, Ahad (20/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-20 M-Plus.
Seminar mengangkat tema “Mendidik Tanpa Marah, Mengasuh Tanpa Lelah” dan diikuti ratusan orang tua murid dan masyarakat umum. Hadir pula pimpinan Muhammadiyah, tokoh pendidikan, kepala sekolah, guru, serta tamu undangan lainnya.
Dr. Aisah Dahlan membahas pengasuhan anak dan remaja dengan pendekatan neurosains yang dipadukan dengan psikologi dan nilai-nilai spiritual Islam. Materi diarahkan pada pemahaman orang tua terhadap cara kerja otak, perkembangan anak, serta komunikasi dalam keluarga.
Salah satu pembahasan utama adalah hubungan antara kondisi emosi dan proses kerja otak. Menurut Aisah, orang tua perlu memahami bahwa suasana hati, lingkungan, nutrisi, dan pola interaksi dapat memengaruhi proses belajar dan perilaku anak.
Karena itu, pengasuhan tidak cukup dilakukan dengan memberikan perintah atau teguran. Orang tua perlu membangun komunikasi yang aman dan positif sehingga anak lebih mudah menerima arahan.
Memahami Remaja
Aisah juga menyoroti masa remaja sebagai fase perkembangan yang membutuhkan perhatian khusus. Perubahan hormon dan perkembangan otak membuat remaja mengalami berbagai perubahan emosi, perilaku, dan cara berpikir.
Orang tua diingatkan untuk tidak mudah memberikan label negatif kepada anak, seperti “generasi rebahan” atau “generasi galau”. Sebaliknya, orang tua perlu membantu anak membangun identitas positif dan mendampinginya melalui proses perkembangan tersebut.
Dalam konteks ini, Aisah memperkenalkan istilah “rem aja” sebagai pengingat bagi orang tua agar mampu menahan emosi ketika menghadapi perilaku anak. Kesabaran dan komunikasi yang baik dinilai lebih efektif daripada kemarahan yang berulang.
Komunikasi dan Sentuhan
Dalam membangun kedekatan dengan anak, Aisah menekankan pentingnya komunikasi dan sentuhan positif. Pelukan, sentuhan lembut, perhatian, serta doa orang tua menjadi bagian dari hubungan yang dapat memperkuat rasa aman anak.
Ia juga menjelaskan bahwa pola komunikasi ayah dan ibu dapat berbeda. Karena itu, orang tua perlu saling memahami dan melengkapi, bukan mempertentangkan perbedaan gaya komunikasi dalam mendidik anak.
Dalam proses belajar, Aisah mengingatkan pentingnya pengulangan. Materi yang dipelajari secara berulang akan membantu anak membangun dan memperkuat koneksi dalam proses belajar. Namun, kemampuan anak tidak hanya ditentukan oleh hafalan. Anak juga perlu dilatih menghubungkan pengetahuan dan menggunakannya dalam situasi yang berbeda.
Aisah kemudian mengaitkan keberhasilan pendidikan dengan tiga hal, yakni pintar, cerdas, dan beruntung. Pintar berkaitan dengan penguasaan pengetahuan melalui proses belajar dan pengulangan, cerdas berkaitan dengan kemampuan menghubungkan berbagai pengetahuan, sedangkan keberuntungan dikaitkan dengan doa, ibadah, dan akhlak.
Orang Tua dan Sekolah Harus Bersinergi
Di bagian akhir, Aisah menekankan bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah. Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk bermain, bereksplorasi, dan belajar dari pengalaman, terutama pada usia dini dan sekolah dasar.
Pola pengasuhan di rumah juga perlu berjalan searah dengan pendidikan di sekolah. Konsistensi antara orang tua dan guru akan membantu anak mendapatkan lingkungan pendidikan yang lebih baik.
Seminar kemudian ditutup dengan doa bersama dan sesi foto. Bagi M-Plus, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-20 sekaligus ruang belajar bersama bagi orang tua dalam menghadapi tantangan pengasuhan anak di tengah perubahan zaman.










